Seharusnya
Minggu, 02 Agustus 2015
Minggu, 12 April 2015
Rabu, 01 April 2015
Kamis, 19 Maret 2015
ya!
Jangan mencemburui seseuatu, dan
jangan berusaha untuk mengorek informasi lebih dalam
Karena yang menyakitkan adalah ketika
otak kita menantang hati...
Logika sudah berpikir, seketika hati
mengabaikan
Lalu dimana letak petingnya mencari,
jika hati tak butuh otak untuk berfikir.
jangan jadikan hati begitu amat kikir.
(kutip; Fiersa Besari)
" I "
kamu tak pernah di ketahui oleh siapun, selain hati ini dan pemilik hati ini...
saat ini aku bimbang untuk menyebutmu apa, hadiah? anugrah? atau apa?
Kamis, 08 Januari 2015
punggung pemikul resah
seperti biasa menulis adalah kegiatanku, kegemaranku, dan kesukaanku...
saat itu aku menulis puisi atau doa entah kau akan menyebutnya apa, 11 september 2014.
aku berada di teras rumah dengan ayah tercinta, kami memang jarang sekali membicarakan hal yang bersifat pribadi...
pribadi disini adalah tentang asmaraku, tentang beban dan masalah papa...
papa selalu terlihat tegar, tegas, dan kurang supel. entah karena faktor apa papa seolah tidak mau mencampuri urusan asmaraku walaupun hanya dengan kalimat sederhana yang bersifat nasehat...
itulah ayahku, papa adalah sosok yang unik dan membosankan. tidak seperti mama....
papa selalu mengejutkan ketika marah. tapi aku tetap menyayanginya...
malam itu setelah obrolan singkat kita, aku kembali ke kamar ....
dan aku menulis ini :
Ya Alloh...
jika rinduku adalah dosa
maka ijinkan aku menggantinya dengan doa...
jika cintaku mengundang laknat
maka ijinkan aku mengubah dengan taat...
karena cintaMu... yang kuharapkan
karena kasihMu... yang kudambakan
karena ridhoMu... yang kuperjuangkan
karena surgamu... yang kuimpikan
dan apakah itu salah ?
tak ubahnya cinta ini datang
tanpa dapatku pertimbangkan
tak kiranya cinta semakin dalam
tanpa mampu lagi kumencegahnya
Ya Alloh...
hilangkanlah segala rasa berlebih
hilangkanlah segala penggelap hati
biarkanlah nurani mencari...
ijinkan aku mempatri 1 hati pada hati yang lemah ini...
untuk halal bagiku .............
saat itu aku menulis puisi atau doa entah kau akan menyebutnya apa, 11 september 2014.
aku berada di teras rumah dengan ayah tercinta, kami memang jarang sekali membicarakan hal yang bersifat pribadi...
pribadi disini adalah tentang asmaraku, tentang beban dan masalah papa...
papa selalu terlihat tegar, tegas, dan kurang supel. entah karena faktor apa papa seolah tidak mau mencampuri urusan asmaraku walaupun hanya dengan kalimat sederhana yang bersifat nasehat...
itulah ayahku, papa adalah sosok yang unik dan membosankan. tidak seperti mama....
papa selalu mengejutkan ketika marah. tapi aku tetap menyayanginya...
malam itu setelah obrolan singkat kita, aku kembali ke kamar ....
dan aku menulis ini :
Ya Alloh...
jika rinduku adalah dosa
maka ijinkan aku menggantinya dengan doa...
jika cintaku mengundang laknat
maka ijinkan aku mengubah dengan taat...
karena cintaMu... yang kuharapkan
karena kasihMu... yang kudambakan
karena ridhoMu... yang kuperjuangkan
karena surgamu... yang kuimpikan
dan apakah itu salah ?
tak ubahnya cinta ini datang
tanpa dapatku pertimbangkan
tak kiranya cinta semakin dalam
tanpa mampu lagi kumencegahnya
Ya Alloh...
hilangkanlah segala rasa berlebih
hilangkanlah segala penggelap hati
biarkanlah nurani mencari...
ijinkan aku mempatri 1 hati pada hati yang lemah ini...
untuk halal bagiku .............
Langganan:
Postingan (Atom)
